Kamis, 23 Februari 2017

Prespektif Rindu

Saya selalu mendefinisikan rindu itu sebagai konsekuensi keterpisahan materi. Rindu ada karena kebutuhan natural seseorang untuk berjumpa dengan kekasihnya dalam konteks ruang dan waktu. Walaupun cinta adalah produk akal murni sebagai konsekuensi dari sampainya akal pada proposisi-proposisi tentang kesempurnaan, namun konsekuensi dari penciptaan maka akal juga harus mengejewantah sampai pada materi.

Maka ketika manusia adalah term akliah, manusia jatuh cinta karena akalnya yang mengenal kesempurnaan, maka dalam posisinya sebagai ciptaan, manusia juga akan mengalami konsekuensi dari penciptaan yaitu mengejewantah. Dimana salah satu pengejewantahan dari cinta dalam ruang dan waktu adalah rindu.

Jadi rindu adalah pengejewantahan cinta dalam ruang dan waktu. Dimana ketika ruang dan waktu menciptakan jarak dan memisahkan materi, maka rindu hadir sebagai keinginan untuk bertemu.
Ini disebabkan karena cinta akan selalu bermakna penyatuan, kalau bahasa arabnya mahabbah, akar kata dari hubb yang berarti wadah. Cinta adalah wadah untuk bersatu karena cinta adalah menjadi Dia yang Satu.
Maka keterpisahan material dalam ruang dan waktu akan selalu menimbulkan keinginan untuk bertemu sebagai konsep persatuan secara material. Maka rindu hadir sebagai keinginan untuk bertemu tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar